Haramnya Perjudian Slot Bonanza Dipandang dari Sisi Agama


Perjudian slot bonanza menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Seperti yang disebut mesin slot, yang notabene-nya adalah bersifat judi. Dalam hal ini, terlihat di salah satu tempat di Kecamatan Jambi Timur depan Depot Pertamina, sebuah ruko yang menyediakan mesin slot.

Hal ini diketahui, dimana sejumlah warga sekitar mengatakan kepada KepriNews.co, bahwasannya di lokasi depan Depot pertamina itu, tersedia mesin slot bonanza. Jejak rekam jenis mesin slot ini sudah tercium oleh pihak yang berkompeten (Kepolisian) dari beberapa tahun kemarin. Salah satu masyarakat sekitar Fais (43) yang pernah bermain di ruko depan depot pertamina kepada Wartawan menceritakan, kalau ia pernah melihat kejadian sebelumnya tahun kemarin dari petugas gabungan Polda Jambi melakukan operasi Pekat (Penyakit Masyarakat) di sejumlah wilayah Kota Jambi dan menggerebek tempat permainan mesin slot di kawasan Jalan Samsudin Uban Kecamatan Jelutung Kota Jambi.

“Jadi perjudian Slot Bonanza ini sudah dilarang dari tahun-tahun sebelumnya. Cuman tidak tahu kenapa, tiba-tiba saat ini kembali marak terjadi di beberapa tempat, termasuk di Kecamatan Jambi Timur, ruko yang berada di lokasi depan Depot Pertamina,” ungkapnya. Sebenarnya aturan pidana mengenai permainan judi sudah jelas, dan instruksi UU itu dilarang. Apalagi dari sudut pandang agama. Menjadi masalah justru implementasinya di lapangan. Meskipun aparat kepolisian sering menangkap pelaku judi dan penyedia mesin slot, tetapi yang diproses hingga ke pengadilan, seperti yang sudah menjadi rahasia umum, sangat minim.

Slot Bonanza
Haramnya Perjudian Slot Bonanza Dipandang Dari Sisi Agama

Menurut versi Hukum Online dijelaskan, ketentuan lain dalam RUU mengenai judi slot bonanza diatur dalam pasal 441, yang menyebutkan bahwa “Setiap orang yang menggunakan kesempatan main judi” dipidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak kategori IV. Pidana denda kategori IV, menurut RUU, besarnya adalah Rp 300 juta. Ketentuan Pasal 440 ayat (1) dan (2) RUU KUHP mengancam pidana penjara 10 tahun bagi mereka yang menawarkan kesempatan main judi, atau menjadikan judi sebagai mata pencaharian. Bahkan, mereka yang ikut serta dalam perusahaan yang mengelola perjudian juga dapat dipidana. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sudah membuat aturan tegas, berupa larangan segala bentuk judi tanpa izin. Pelaku perjudian bisa dipidana paling lama 10 tahun penjara. Pasal 303 ayat (3) KUHP menyebutkan bahwa yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, dimana pada umumnya kemungkinan mendapatkan untung bergantung pada peruntungan belaka, juga karena permainananya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuk segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya. Nah, larangan melakukan perjudian semacam itu kembali diulangi dalam Rancangan (RUU) KUHP yang sudah disiapkan Departemen Kehakiman dan HAM. Bedanya, jika KUHP masih menyebut kalimat “tanpa izin”, maka dalam RUU kalimat tersebut sudah tidak ada lagi. Saat KepriNews.co ingin mewawancarai Kapolsek Jambi Timur AKP Rinto Aivan, dikatakan Kapolsek bahwa ia tidak mengurus masalah perjudian itu, coba tanyakan saja kepada Kanid-nya.

Judi dapat didefinisikan sebagai “Upaya mempertaruhkan uang dalam usaha untuk melipatgandakan uang untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil.” Alkitab tidak secara jelas khusus mencela perjudian slot bonanza, pertaruhan atau undian itu sendiri. Tapi secara jelas, Alkitab memperingatkan kita untuk menjauhkan diri dari mencintai uang (Timotius 6:10; Ibrani 13:5). Alkitab juga menasehati kita untuk menjauhkan diri dari usaha “mendapat kekayaan dengan cepat” (Amsal 13:11; 23:5; Pengkhotbah 5:10). Judi, sangat jelas, berfokus pada usaha mencintai uang dan menggoda orang dengan janji untuk mendapatkan kekayaan secara cepat dan mudah.

Apa masalahnya dengan judi? Judi adalah isu yang sulit karena jika dilakukan dengan tidak berlebihan dan hanya sesekali, ia cuma sekedar menghamburkan uangnya, namun tidak berarti menjadi sesuatu yang “jahat”. Orang menghamburkan uang dalam berbagai macam aktivitas. Judi tidak menghamburkan uang lebih banyak atau lebih sedikit dibanding dengan berbelanja, bersantap yang mewah/mahal, ataupun membeli barang yang tidak perlu. Fakta bahwa uang juga bisa dihamburkan dalam hal-hal lain tidak lantas membenarkan judi. Uang tidak seharusnya dihambur-hamburkan. Kelebihan uang seharusnya ditabung supaya bisa diberikan untuk pekerjaan Allah, bukan dihabiskan untuk berjudi. Walaupun Alkitab tidak secara eksplisit mencantumkan judi slot bonanza, Alkitab menyebut permainan “untung-untungan”. Contohnya, melempar undi digunakan dalam kitab Imamat untuk memilih domba yang akan dikorbankan dan domba yang akan dilepaskan. Yosua membuang undi untuk membagi tanah kepada berbagai suku. Nehemia membuang undi untuk menentukan siapa yang akan tinggal di Yerusalem dan siapa yang tidak. Para rasul membuang undi untuk menentukan pengganti Yudas. Amsal 16:33 mengatakan, “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN”. Dalam Alkitab, judi atau “untung-untungan”, tidak pernah digunakan sebagai hiburan atau sebagai kebiasaan yang pantas bagi para pengikut Allah.

Kasino menggunakan segala bentuk pemasaran untuk menarik penjudi mempertaruh uang mereka sebanyak mungkin. Kasino sering menawarkan minuman beralkohol secara murah, bahkan gratis, yang kemudian mengakibatkan para penjudi mabuk dan menurunnya kemampuan mereka membuat keputusan secara bijaksana. Segala sesuatu dalam kasino ditata sedemikian rupa untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dan tidak mengembalikan apa-apa, kecuali kesenangan yang singkat dan kosong. Lotto berusaha melukiskan dirinya sebagai solusi untuk mendanai pendidikan dan/atau program-program sosial. Namun riset memperlihatkan bahwa orang yang bermain lotto biasanya adalah orang-orang yang justru tidak mampu secara finansial untuk memasang lotto. Bagi mereka yang sudah kehabisan akal, daya tarik untuk “cepat kaya” sering merupakan godaan yang terlalu sulit untuk ditahan. Kesempatan untuk menang begitu kecilnya sehingga akibatnya: Banyak yang hidupnya hancur.

Mengapa keuntungan dari lotto tidak menyenangkan Allah? Banyak orang mengklaim bahwa mereka memasang lotto atau berjudi supaya dapat memberi uang kepada gereja, atau untuk pekerjaan amal lainnya. Walaupun ini adalah motif yang baik, kenyataannya hanya sedikit yang menggunakan keuntungan dari judi untuk hal yang rohani. Studi memperlihatkan bahwa mayoritas dari mereka yang menang lotto justru berada dalam situasi keuangan yang lebih parah, beberapa tahun setelah menang jackpot dibanding sebelumnya. Hanya sedikit, kalaupun ada, yang memberi untuk pekerjaan amal. Lebih dari itu, Allah tidak membutuhkan uang kita untuk mendanai pekerjaanNya dalam dunia ini. Amsal 13:11 mengatakan, “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya”. Allah berdaulat dan akan menyediakan segala kebutuhan gereja melalui cara-cara yang jujur dan pantas.

Apakah nama Allah akan dipermuliakan melalui uang hasil penjualan narkoba, atau uang yang dirampok dari bank? Demikian pula, Allah tidak menghendaki uang yang “dicuri” dari orang-orang miskin, melalui godaan untuk cepat kaya, untuk dipersembahkan kepadaNya. Timotius 6:10 memberitahu kita “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”. Ibrani 13:5 menyerukan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau’”. Matius 6:24 mengatakan, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon“.