Sanksi Perjudian Slot Pragmatic Menurut Agama Islam


Suatu perbuatan dianggap sebagai jarimah atau tindak pidana, karena
perbuatan tersebut merugikan masyarakat, agama, Jarimah yaitu perbuatan
yang ilarang ol h syara’ an p lakunya iancam ol h Allah SWT ngan
hukuman had (bentuk tertentu) atau ta’zir (pelanggaran yang jenis
hukumannya didelegasikan kepada hakim atau penguasa. Yang dimaksud
ngan larangan syara’ a alah m lakukan p r uatan suatu tin akan harta
bendanya, dan nama baiknya. Ditetapkannya hukuman untuk mencegah
manusia agar tidak melakukannya lagi, karena suatu larangan atau perintah
tidak berjalan dengan baik, apabila tidak disertai dengan sanksi terhadap
pelanggarnya. Hukuman merupakan suatu hal yang tidak baik, namun
diperlukan karena bisa membawa keuntungan bagi masyarakat.

Khamar dan maisir adalah perbuatan keji yang diharamkan dalam alQur’an. Larangan tentang perjudian slot pragmatic dirangkaikan dengan pidana sehingga
perbuatannya yang dilarang dan diancam hukuman oleh syara’ atau
meninggalkan perbuatan yang diperintah dan diancam dengan hukuman oleh
syara’ bagi yang meninggalkannya Ditinjau dari segi berat ringannya
hukuman, jarimah dapat dibagi menjadi tiga diantaranya sebagai berikut:

Jarimah hudud, kata adalah jamak dari kata Hudud yg artinya larangan. Hudud menurut istilah adalah hukuman yang telah ditentukan dalam
syariat terhadap orang yang berbuat maksiat atau dosa. Menurut
kesepakatan ahli fikih, bentuk-bentuk jarimah hudud jumlahnya terbatas yaitu: zina pencurian, qazf (menuduh orang lain berbuat berzina),
perampokan, khamar (minuman keras)

Jarimah qishas dan diat adalah tindak pidana yang berkaitan dengan
pelanggaran terhadap jiwa atau anggota tubuh seseorang, yaitu membunuh
atau melukai seseorang.

Slot Pragmatic
Sanksi Perjudian Slot Pragmatic

Hukuman tindak pidana ini adalah qisas yaitu memberikan
perlakuan yang sama kepada terpidana sesuai dengan tindak pidana yang
dilakukannya. Diat adalah ganti rugi dengan harta. Jarimah qisas atau diat
hukumannya bersifat terbatas, tidak memiliki batas terendah dan tertinggi,
sebagaimana yang berlaku dalam jarimah hudud. Disamping itu, jarimah
qisas atau diyat merupakan hak pribadi, artinya pihak korban bisa
menggugurkan hukuman qisas tersebut, baik melalui pemanfaatan tanpa
ganti rugi maupun pemaafan dengan ganti rugi. Karena hak qisas atau diat
merupakan hak pribadi korban, maka hak inilah dapat diwarisi oleh ahli
warisnya.Menurut Abdul Qadir Audah, bentuk-bentuk jarimah qisas atau
diat juga terbatas yaitu: Pembunuhan sengaja, semi sengaja, pembunuhan
tersalah, pelanggaran terhadap anggota tubuh, pelanggaran.

jarimah ta’zir adalah tindakan yang berupa edukatif (pengajaran) terhadap
pelaku perbuatan dosa yang tidak ada sanksi had dan kifarat nya. khamar.
Perjudian termasuk salah satu tindak pidana, hukumnya disejajarkan
dengan tindak pidana khamar.

Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik re. katanya: Sesungguhnya
seorang laki-laki yang meminum arak telah dihadapkan kepada Nabi
SAW. Kemudian baginda telah memukulnya dengan dua pelepah kurma
sebanyak empat puluh kalipukulan.

Hukuman jarimah khamar disebutkan dalam kasusnya al- Walid
bin Uqbah dengan 40 kali cambukan. Dalam kasus ini kata Ali r.a:
Artinya: Rasulullah telah menghukum dengan empat puluh pukulan, Abu
Bakar ra. Juga empat puluh kali pukulan, dan Umar ra. Menghukum
dengan delapan puluh pukulan. Hukuman ini (empat puluh kali pukulan)
adalah hukuman yang lebih saya sukai ” diriwayatkan oleh Muslim).

Semua Ulama’ dari kempat mazhab sepakat bahwa seorang pemabuk
harus dihukum cambuk. Para Ulama Maliki, Hanafi, Hanbali berkata
bahwa hukuman had bagi peminum khamar adalah 80 kali cambukan,
sedangkan Imam Syafi’i memberikan hukuman sebanyak 40 kali
cambukan. Umar bin Khattab juga pernah memberikan hukuman 80 kali
cambukan.

Maisir termasuk dalam jarimah ta’zir, menurut bahasa, ta’zir
m rupakan ntuk mas ar ari kata “’azzara” yang rarti m nolak an
mencegah kejahatan. Sedangkan menurut istilah adalah pencegahan dan
pengajaran terhadap tindak pidana yang tidak ada ketentuannya dalam
had, kifarat maupun qishasnya.

Ta’zir adalah hukuman atas tindakan pelanggaran dan kriminalitas
yang tidak diatur secara pasti dalam hukum had. Hukuman ini berbedabeda, sesuai dengan perbedaan kasus dan pelakunya. Dari satu segi, ta’zir
ini sejalan dengan hukum had, yakni tindakan yang dilakukan untuk
memperbaiki perilaku manusia, dan untuk mencegah orang lain agar tidak
melakukan tindakan yang sama. Jarimah ta’zir jumlahnya sangat
banyak, yaitu semua jarimah selain diancam dengan hukuman had,
kifarat, dan qishas diyat semuanya termasuk jarimah ta’zir. Jarimah ta’zir
dibagi menjadi dua: Pertama, Jarimah yang bentuk dan macamnya sudah
ditentukan oleh nash Al-Qur’an an Hadits tetapi hukumnya is rahkan
pada manusia. Kedua, Jarimah yang baik bentuk atau macamnya, begitu
pula hukumannya diserahkan pada manusia Syara’ hanya memikirikan
ketentuan yang bersifat umum saja.

Syara’ tidak menentukan macam hukuman untuk setiap jarimah ta’zir
tetapi hanya menyebutkan sekumpulan hukuman dari yang seringan-ringannya sampai yang seberat-beratnya Syari’ah hanya menentukan
sebagian jarimah ta’zir, yaitu perbuatan-perbuatan yang selamanya akan
dianggap sebagai jarimah; seperti riba, menggelapkan titipan, memakimaki orang, suap-menyuap dan sebagainya.

Jenis hukumannya berupa hukuman cambuk atau jilid.
31 Hukuman
ta’zir terbagi menjadi lima macam, diantaranya sebagai berikut:
Hukuman mati
Hukuman ta’zir menurut hukum Islam bertujuan untuk mendidik.
Hukuman ta’zir diperbolehkan jika diterapkan akan aman dari
akibatnya yang buruk. Artinya ta’zir tidak sampai merusak.
Sebagian besar fukaha memberi pengecualian dari aturan umum
Yang dimaksud kata jarimah ialah, larangan-larangan syara’ yang
diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta’zir. Laranganlarangan tersebut adakalanya berupa mengerjakan perbuatan yang
dilarang, atau meninggalkan perbuatan yang diperintah. Sesuatu
perbuatan baru dianggap jarimah apa ila ilarang ol h syara’
tersebut, yaitu memperbolehkan penjatuhan hukuman mati
sebagai hukuman ta’zir ketika kemaslahatan umum menghendaki
demikian atau kerusakan yang diakibatkan oleh pelaku tidak bisa
ditolak kecuali dengan jalan membunuhnya, seperti menjatuhkan
hukuman mati kepada mata-mata, penyeru bid’ah (pembuat
fitnah) dan residivis yang berbahaya. Karena hukuman mati
merupakan suatu pengecualian dari aturan umum hukuman ta’zir,
hukuman tersebut tidak boleh diperluas atau diserahkan
seluruhnya kepada hakim seperti halnya hukuman ta’zir yang ainnya. Hal ini karena penguasa harus menentukan macam tindak
pidana yang boleh dijatuhi hukuman mati.

Hukuman jilid (cambuk) Hukuman jilid (cambuk) merupakan
hukuman pokok dalam syariat Islam. Untuk jarimah hudud,
hanya ada beberapa jarimah yang dikenakan hukuman jilid,
seperti zina, qadzaf, dan minuman khamar. Untuk jarimah ta’zir
bisa diterapkan dalam berbagai jarimah. Bahkan untuk jarimah
ta’zir yang berbahaya, hukuman jilid lebih diutamakan.

Mengenai ketentuan larangan ta’zir melebihi sepuluh
cam ukan, alam ha is Hani’ in Nayyar ahwa ia m n ngar
Rasulullah bersabda :
Artinya: janganlah kalian menjilid (mencambuk) melebihi
sepuluh kali cambukan kecuali dalam hukuman (had) dari
hukuman-hukuman Allah Azza wa Jalla.

Ketentuan ini didukung oleh Ahmad, Laits, Ishak, dan
penganut ma za syafi’i Mereka mengatakan, tidak boleh ada
tambahan melebihi sepuluh cambukan. Inilah yang ditetapkan
dalam syariat. Tambahan melebihi sepuluh cambukan dibolehkan
dalam ta’zir, tetapi tidak boleh mencapai tingkat hudud terendah.

Sekian artikel ini dibuat, semoga bermanfaat. Terimakasih.